Senin, 30 Oktober 2017

Keberanian Mengagumkan

Hai Sobat 3 Pilar, bertemu lagi di Blog 3 Pilar.

Maaf ya, karena sudah lama tidak singgah, sepertinya banyak debu dimana-mana. Hehe.. ^_^

Oke lanjut saja ke postingan berikut ini. Bagi sobat 3 Pilar, pernahkah ada yang mengalami yang namanya “Bullying” ? Mungkin saat kita di sekolah atau di tempat lingkungan tinggal sobat?
Jika pernah, apa yang Sobat 3 Pilar lakukan untuk menghadapi Bullying ini? Ataukah sobat memilih “Diam” saat melihat hal ini merajalela di sekitar kita? Jangan sampai itu terjadi, karena Diam Bukan Pilihan yang tepat. Ini yang menjadi concern Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).  Dimana LPSK menghimbau kita semua selaku warga negara yang baik untuk turut serta dalam memerangi setiap tindak kejahatan yang terjadi di negara ini, khususnya di lingkungan sekitar kita, entah itu sebagai saksi maupun korban kejatahan. Salah satu diantaranya adalah Bullying.
Dulu, saat masa sekolah, kita tentunya belum mengerti dan belum peduli apa itu “Bullying”. Seperti mengancam seseorang, mengolok-olok dengan kata-kata kasar dan lain sebagianya. Kita biasa menganggap bahwa itu hanya “kenakalan” anak-anak saja. Namun sebenarnya, itu dapat dikatakan “Bullying”.
gambar dari sini


Saat ini, masalah Bullying semakin meningkat, baik itu di lingkungan sekolah dasar, menengah maupun tingkat perguruan tinggi dan bisa saja terjadi di lingkungan tempat kerja. Dilansir dari laman berita online, berdasarkan data survei, bahwa anak usia 12-17 tahun sebesar 84% nya pernah menjadi korban Bullying. Ini tentunya merupakan masalah serius. Jika tidak dihentikan, maka akan berdampak buruk terhadap mental generasi penerus bangsa kelak. Entah itu bagi pelaku Bullying maupun bagi si korban Bullying itu sendiri.
Maka dari itu, saya ingin sedikit berbagi pengalaman masa kecil saya dan masa-masa saya awal menginjakkan kaki di dunia kerja, yang bisa dibilang masuk kedalam kategori “Bullying”.
Sekitar tahun 2003, dari Tangerang Selatan (dulunya masih Tangerang) saya mengikuti orangtua pindah ke Sumatera Barat, di sebuah desa kecil yang bernama Desa Labu. Lalu kira-kira tahun 2005, saya pindah kembali ke Tangerang Selatan dan saat itu saya baru masuk Sekolah Menengah Pertama. Tentunya ini menjadi momok yang menakutkan bagi saya kala itu. Karena saya merasa “anak desa yang pindah ke kota” meskipun hanya kurang lebih dua tahun saya di Sumbar. Namun perasaan seperti itu tetap ada.
Ini menjadikan saya murid yang begitu pendiam. Selama tiga bulan saya beradaptasi dengan sekolah baru, teman-teman baru, namun untungnya pelajarannya masih sama. Sehingga saya tidak begitu kesulitan. Dan saya masih bisa mendapat ranking pertama di kelas. Sejak SD pun saya juga sudah sering menyandang peringkat satu. Mungkin hanya itu yang dapat saya banggakan ketika ada teman sekelas yang berusaha ingin mengolok saya.
Kala itu, kalimat-kalimat yang sering mampir ditelinga saya adalah kalimat menyindir, mengolok-olok seperti, “Kamu anak cupu, untuk apa rajin belajar”, atau “Anak dari kampung, bicaranya aneh” dan kata-kata mengancam seperti “Pinjam buku PR”, lalu merampas buku PR saya. Hal seperti ini tak hanya sekali. Dan dilakukan oleh anak-anak yang bisa dikatakan “Keren” di sekolah, mereka merasa berkuasa. Bukankah itu sudah termasuk dalam kategori “Bullying”?
gambar dari sini

Dalam Makalah Bullying oleh Esther Novelia, definisi Bullying menurut Ken Rigby (2002: 15) : “Penekanan atau penindasan yang berulang-ulang secara psikologis atau fisik terhadap seseorang yang memiliki kekuatan atau kekuasaan yang kurang, oleh seseorang atau kelompok orang yang lebih kuat”.
Sedangkan jenis-jenis Bullying, menurut Andi Priyatna (2010: 3) dalam Makalah Bullying oleh Esther Novelia, dikategorikan sebagai berikut :
  1. Fisikal : memukul, menendang, mendorong, merusak
  2. Verbal : mengolok-olok nama panggilan, mengancam, menakut-nakuti
  3. Sosial : gossip, rumor, dikucilkan dari pergaulan,  dan sejenisnya
  4. Cyber / elektronik : mempermalukan orang dengan menyebar gosip di jejaring sosial media internet (misal : Facebook)


Jadi, Bullying itu tidak hanya tindak kekerasan fisik saja namun juga psikis baik secara verbal maupun sosial bahkan cyber/elektronik. Dapat dikatakan bahwa pengalaman masa kecil saya itu termasuk Bullying secara verbal yang menyerang psikis.
Saya bersyukur, karena keluarga selalu menjadi “rumah” bagi saya. Keluarga selalu mendukung segala kegiatan saya ketika bersekolah. Sehingga saya selalu bersemangat belajar, lalu membuktikan kepada pelaku Bullying bahwa saya dapat berprestasi dan tidak ingin menjadi korban Bullying lagi. Saya akhirnya tidak begitu memedulikan ejekan mereka, karena saya merasa mampu menjadi peringkat pertama. Itu menjadikan pelaku Bullying justru akhirnya ingin berteman dengan saya. Menurut saya, ini sungguh pengalaman yang mengagumkan.
gambar dari sini

Bagaimana diri sendiri, keluarga, lingkungan masyarakt sangat berperan dalam mengatasi masalah Bullying ini. Memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, tetapi kita pasti dapat mencegahnya atau memulihkannya jika memang sudah menjadi korban. Begitu juga bagi pelaku, rata-rata mereka dulunya termasuk korban Bullying. Sehingga perlu juga diberikan arahan agar mereka berhenti untuk melakukan Bullying. Dalam hal ini pendidikan karakter.

Untuk kasus kedua yaitu, ketika saya memasuki dunia kerja pada tahun 2014. Meski saya termasuk mahasiswa dengan nilai IPK 3 koma sekian namun tetap saja saya adalah freshgraduate. Pemula yang sedang berusaha untuk beradaptasi dengan lingkungan kerja.

Kesalahan demi kesalahan saya perbuat saat pertama bekerja. Omelan bahkan cacian saya terima dari senior saya. Padahal itu hanya kerja kontrak selama 3 bulan untuk menggantikan karyawan yang sedang cuti hamil. Tetapi 3 bulan menjadi terasa bagai satu tahun. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk berhenti di bulan kedua.
Bagaimana saya tahan dengan segala sindiran senior, “Kamu enak masuk sini, itu karena kami kasian melihat kamu, padahal kamu dari universitas biasa saja”. Belum lagi hinaan senior itu sampai kepada kredibilitas universitas tempat saya mendapat gelar sarjana itu. Dia berkata bahwa “Apa yang diajarkan di kampusmu, apakah kamu benar seorang sarjana, saya salah memilih kamu kedalam team saya”.
gambar dari sini

Kalimat diatas terus saya terima hampir setiap hari. Tentunya ini sempat membuat saya depresi. Saya merasa ada yang salah dengan diri saya. Di tempat kerja saya dikucilkan dan itu semakin memperburuk keadaan psikis saya. Saya pun jadi malas untuk datang bekerja. Saya merasa tidak percaya diri. Saya selalu merasa akan melakukan kesalahan lagi. Dan pasti nanti akan kena omelan lagi, itulah yang ada di benak saya.

Sampai pada akhirnya saya membaca sebuah artikel di internet. Disana tertulis tentang tanda-tanda depresi, kemudian Bullying secara verbal dan sosial. Karena tiap kali saya terkena omelan tanpa disadari ketika di toilet, saya selalu menangis. Saya merasa tidak berguna. Bukankah ini juga termasuk Bullying? Namun terkadang kita tidak menyadari hal tersebut.

Setelahnya, saya merasa harus keluar dari zona itu. Saya berusaha menyadarkan diri saya, bahwa saya bukanlah orang lemah, saya adalah seseorang yang berharga setidaknya bagi keluarga saya. Itu lah yang terus saya tanamkan dalam hati, agar saya tidak terjerumus dalam zona depresi. Alhamdulillah, keluarga lagi-lagi kembali menjadi penolong dalam hidup saya, menjadi sumber kekuatan bagi saya. Saya pun keluar dari zona Bullying dan terbebas dari rasa depresi.
gambar dari sini

Sungguh, marilah kita bersama-sama menjadi pribadi yang lebih menghargai kinerja orang lain. Bahwa setiap orang memiliki sisi terbaiknya juga. Marilah bertindak sesuai dengan norma yang ada. Dan marilah cegah tindak kejahatan di sektar kita.

Sekian ya Sobat 3 Pilar sedikit pengalaman saya, semoga dapat memberi manfaat. Diam Bukan Pilihan. Semoga kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
^_^





sumber referensi :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar