Rabu, 26 Juni 2013

[Novela] Perempuan Penyetia Harapan

Hai sobat 3 Pilar. Kali ini, saya mencoba membuat atau menulis sebuah review atau resensi dari sebuah buku, entah itu Novel, Novela, maupun antologi atau kumpulan Cerpen. Dan tidak menutup kemungkinan, Film atau Movie juga akan saya review. hehe J
Sebenarnya, tulisan ini lebih bersifat pendapat pribadi saya mengenai buku-buku atau film yang sudah saya baca atau saya tonton hingga selesai, sehingga tulisan yang saya buat ini sifatnya juga tidak mutlak. Pasti akan berbeda-beda pada setiap orang. Dan tentunya, masih banyak kekurangan ataupun kesalahan pada review ini. Jadi mohon dimaafkan ya, sobat. J
Baiklah, langsung saja ke topik utama. Check this out, sobat.


Buku Penjual Kenangan : ketika harap mencari tepi, berisi sebuah novela (lebih panjang dari cerpen dan lebih pendek dari novel) yang berjudul "Carano" dan sepuluh cerpen yang salah satunya berjudul "Penjual Kenangan". Buku Penjual Kenangan merupakan sebuah roman kultural Indonesia.
Berdasarkan twitlive penulis @widya_oktavia, judul buku "Penjual Kenangan" diambil dari nama blog penulis sendiri yaitu Penjual Kenangan. Tetapi isi buku Penjual Kenangan bukanlah tulisan-tulisan yang ada di blog penulis. Jadi, cerita yang disuguhkan benar-benar baru, hanya cerpennya saja yang sudah pernah diterbitkan dibeberapa media cetak. Namun, pastinya kesepuluh cerpen dan satu novela yang terdapat didalamnya memiliki warna baru yang menyegarkan ingatan para pembaca akan budaya negeri ini.

carano

Bagi orang Minangkabau, mungkin kata Carano sudah familiar ditelinga mereka, salah satunya saya pribadi. Carano mengingatkan saya pada sebuah “Pernikahan”. Ternyata, benar, novela Carano ini mengisahkan tentang cinta, harapan, takdir dan luka seorang perempuan berdarah Minang, yang masih memegang teguh adat istiadatnya di zaman modern seperti sekarang ini.

Perempuan itu atau si Aku adalah seorang gadis Minang yang bercerita tentang kisah cintanya, tentang keluarganya dan tentang seorang laki-laki yang dicintainya. Kesetiaannya pada cinta yang selalu ditunggunya. Dan berharap semua itu akan menjelma.

“Kembalilah kepadanya.... Perempuan itu, dia pasti mencintaimu pula. Cinta yang tulus tak seharusnya kita khianati, bukan?” lanjutnya, mencoba meraih segala kebijakan yang pernah ia pelajari pada masa lalu. Cintanya kepada laki-laki ini, tulus. Dia tak putus mencintai laki-laki itu, ia tak bisa menyangkalnya. Namun, ada cinta lain pula yang perlu ia jaga—cinta sang Ibu kepadanya, yang telah membuatnya hidup selama ini. Akankah ia juga mampu mengkhianatinya? [ruang takdir, halaman 56]

Dan perempuan itu, memiliki Ibu yang luar biasa bijaknya.
“Lepaskanlah dia....,” ucap sang Ibu. “Kau sedang dilamun ombak, Nak. Harus kau perkuat kapal layarmu. Kata orang, nakhoda selalu yakin esok akan ada matahari, Nak, karena itu mereka tak pernah hilang harapan di lautan tak bertepi sekalipun. Dan, ada doa yang selalu menyertai mereka, dari jauh, dari rumah yang mereka tinggalkan....” [ruang jarak, halaman 37]

Perempuan itu juga memiliki seseorang yang sangat dicintainya, meski ia telah dikhianati oleh laki-laki itu.
... “Maaf, sampaikan kepada Amak dan keluargamu, maaf aku telah menjatuhkan carano itu, bahkan jauh sebelum ia sampai kepadaku.....” Suara laki-laki itu begitu pilu, tak bisa menyembunyikan getir keinginan untuk mengutuki masa lalu. [ruang takdir, halaman 57]

Sedangkan kesepuluh cerpennya memiliki cerita yang berbeda-beda. Tiga cerpen; 1) Dalam Harap Bintang Pagi, 2) Kunang-kunang, 3) Perempuan Tua di Balik Kaca Jendela, dapat membawa pembaca bagai ke negeri dongeng. Tiga cerpen lagi; 1) Percakapan Nomor-Nomor, 2) Tengara Langit, 3) Nelangsa, lebih mengarah ke cerita atau kritik sosial. Sedangkan empat cerpen sisanya, menceritakan kisah cinta, romantisme dengan berbagai permasalahannya; 1) Penjual Kenangan, 2) Menjelma Hujan, 3) Tembang Cahaya, dan 4) Bawa Musim Kembali, Nak.

gambar pinjam disini

Sudut pandang yang digunakan adalah campuran, yaitu sudut pandang orang pertama (aku) dan orang ketiga (dia, ia, perempuan itu). Seperti kebanyakan pada tulisan sastra.
Sudut pandang orang ketiga :
Lelah menunggu, perempuan itu juga tampak menunduk. Ia sesekali menutup muka dengan kedua tangannya. Sepertinya, ia juga menahan kantuk dengan kuapan yang panjang. (ruang tunggu, halaman 6-7)

Sudut pandang orang pertama :
.... Hah! Semua kata-kata itu larut dalam tangisku yang semakin dalam. Aku tak berani melihat kakak pertamaku. Keluarga marapulai itu telah menghancurkan carano yang kami bawa ke rumahnya, saat meminang. (ruang lalu, halaman 15)

Jadi, sobat akan merasakan suatu cerita yang beraroma sastra nan indah namun masih tetap ringan untuk dibaca seperti cerita populer (novel romance) lainnya.

Untuk cover sudah oke. Seperti jendela yang menyetia. Ukuran font standar, jenis font juga standar (Times Nes Roman). Sedangkan untuk cerita yang menggunakan sudut pandang orang pertama, penulis memakai jenis font berbeda.

Menurut saya, alur dalam novela ini adalah maju mundur. Pada [ruang tunggu] adalah masa sekarang kemudian mundur ke masa lalu [ruang lalu] [ruang resah] [ruang jarak] [ruang kenangan] dan terakhir kembali lagi ke saat sekarang [ruang takdir].

Pernikahan Adat Minangkabau

Kau, berbahagialah. Jangan menengok kembali kenangan kau-aku itu. Itu bukan lagi tentang kita. Itu hanyalah tentang kau-aku. Kau bisa melihat perbedaannya, bukan?
Tapi, ya, aku mencintaimu, selalu. [ruang takdir, halaman 58]

Intinya, buku Penjual Kenangan ini adalah buku yang wajib dibaca, apalagi oleh para penikmat novel atau para pencinta romanceRecommended!
Sekian dari saya. Terima kasih ya sobat, sudah bersedia membaca tulisan ini. Semoga bermanfaat. Kenangan? Jika tidak dapat lagi menyimpannya atau tidak bisa membuangnya, jual saja kenangan itu. J



Judul                           : Penjual Kenangan
Penulis                        : Widyawati Oktavia
Penyunting                 : Gita Romadhona & Yullia Febria
Proofreader               : Syafial Rustama
Penata Letak              : Erina Puspitasari
Ilustrator Isi               : Gama Marhaendra
Desainer Sampul       : Dwi Anissa Anindhika
Penerbit                     : Bukune
Halaman                     : 214 hlm
ISBN                            : 602-220-089-x
Cetakan                      : Pertama (I)
Harga                         : Rp  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar