Senin, 08 April 2013

The Luck Factor


        Apa kabar sahabat tiga pilar? Semoga baik ya.. :) :) Kali ini saya akan mencoba mengulik sedikit mengenai sebuah keberuntungan (Luck). Saya akan mengaitkan kejadian-kejadian keberuntungan yang terjadi dalam hidup saya dengan faktor-faktor keberuntungan yang di ciptakan oleh DR. Richard Wiseman dalam bukunya The Luck Factor. Dimana profesor Wiseman mengadakan sebuah penelitian besar dan dalam jangka waktu yang cukup lama dengan melibatkan banyak orang yang rela mengutarakan segala sesuatu yang terjadi dalam hidup mereka baik hal-hal yang bersifat “beruntung” dan “tidak beruntung”.

Benarkah ini hanya sebuah Luck (Keberuntungan)?
Akhir tahun 2012 hingga menuju pertengahan 2013 banyak hal baru yang terjadi dalam hidup saya. Berawal dari membaca sebuah buku milik profesor psikologi dari University of Herfordshire yaitu Dr. Richard Wiseman yang berjudul The Luck Factor, telah mengantarkan saya kepada keberuntungan.
Kejadian-kejadian yang saya anggap sebuah Luck” atau “keberuntungan” yang terjadi dalam hidup saya, diantaranya :


  1. Saya memenangkan sebuah “notebook” dari ajang atau lomba menulis (Script Writer) yang diselenggarakan sebuah perusahaan operator/provider ponsel Nasional. Padahal saya bukan seorang “penulis” dan saya belum pernah membuat sebuah “tulisan” yang di kategorikan sebagai “cerita” ataupun “naskah”.
  2. Saya mendapat paket buku/novel dan menghadiri kelas “menulis bareng” gratis dari sebuah penerbit mayor di Indonesia yang sudah cukup terkenal. Saya mengikuti lomba menulis “surat untuk sahabat”.
  3. Saya mendapat lagi sebuah novel dari penerbit yang sama dari kuis secara online di twitter mengenai novel yang baru di terbitkannya. Saya mengajukan pertanyaan yang berbeda, sehingga penerbit memilih pertanyaan saya untuk di ajukan kepada penulis novel tersebut.
  4. Akhirnya saya mengikuti lomba-lomba menulis. Dan ada beberapa cerpen saya yang masuk menjadi kontributor kumpulan cerpen, ya walaupun belum menjadi pemenang utama namun saya bahagia. Karena sebelumnya saya tidak pernah berpikir akan terjun kedalam dunia kepenulisan dan menjadi seorang “penulis” meski masih “amatir”. Hehe..

sumber gambar : google

Dari beberapa kejadian atau hal yang saya alami diatas, terlihat biasa saja bukan dan seperti sebuah “keberuntungan” atau hal tidak terduga. Tetapi dibalik itu semua, mari kita sedikit menganalisis dan membuat pertanyaan-pertanyaan.


  1. Mengapa saya memenangkan atau dapat terpilih sebagai pemenang dalam lomba Scriptwriter tersebut, padahal awalnya saya bukanlah seorang “penulis”?
  2. Mengapa saya mengikuti lomba Scriptwriter tersebut, padahal saya bukanlah seorang “penulis”? Darimana saya mendapat keberanian untuk mencoba lomba tersebut yang saya sendiri tidak tahu akan memenangkannya atau tidak?
  3. Mengapa saya mengikuti lomba menulis surat untuk sahabat dan dari mana saya mengetahui informasi lomba tersebut?
  4. Mengapa saya bisa membuat pertanyaan berbeda yang dapat dipilih penerbit tersebut? Dan bagaimana saya mengetahui informasi lomba itu?
  5. Dan mengapa saya memutuskan untuk mengikuti lomba-lomba cerpen?
Pada awalnya, saya tidak pernah berpikir sedikitpun bahwa kejadian-kejadian diatas akan menghampiri hidup saya. Jadi, saya menganggapnya hanya sebuah “luck” atau keberuntungan. Apakah ini adalah benar-benar sebuah keberuntungan semata. Lalu, apakah sebelumnya saya adalah orang yang “beruntung”? Jawabannya, tidak. Saya merasa “beruntung” ketika selesai membaca buku “The Luck Factor”.


Blurb Buku The Luck Factor
Buku “The Luck Factor” ini akan menjelasakan “keberuntungan” yang terkadang dikaitkan dengan hal mistis atau takhayul atau sejenisnya, dengan ilmu pengetahuan. Berikut ini ada “blurb” dari buku The Luck Factor.
“Ada orang-orang yang seolah terlahir dengan dinaungi awan hitam, dan tak beruntung sepanjang ingatan mereka. Usaha mereka bangkrut, sering mendapat kecelakaan, ambisi jiwa mereka tak tercapai, dan cinta sejati enggan menghampiri. Sebaliknya, ada orang yang tampaknya berkawan dengan Dewi Fortuna. Mereka menemukan belahan jiwanya, mencapai impian mereka, memiliki karier yang memuaskan dan menjalani hidup yang bahagia serta bermakna. Orang-orang beruntung ini tidak bekerja terlalu keras, bukanlah orang yang amat pandai maupun berbakat. Mereka hanya seolah memiliki bakat istimewa untuk berada ditempat yang tepat, pada saat yang tepat dan mengundang lebih banyak keberuntungan.”
sumber gambar : koleksi pribadi

“Apa yang membuat orang beruntung? Banyak yang menyangka bahwa keberuntungan adalah kekuatan mistis yang dipengaruhi ritual takhayul. Dalam buku The Luck Factor ini, Dr. Richard Wiseman mengungkapkan bahwa keberuntungan itu sangat ilmiah dan dapat dipelajari. Wiseman yang merupakan profesor psikologi di University of Herfordshire mengambil kesimpulan ini setelah melakukan delapan tahun riset yang intensif mengenai faktor-faktor penyebab keberuntungan. Hasilnya, ada empat faktor utama yang membedakan antara orang beruntung dan tidak beruntung.”


My Luck Factor
Ada empat prinsip keberuntungan yang di paparkan dalam buku The Luck Factor ini. Dari keempat prinsip tersebut di bagi lagi kedalam beberapa subprinsip. Dan saya akan menjelaskan “keberuntungan” saya berdasarkan faktor atau prinsip keberuntungan yang di sebutkan oleh DR. Richard Wiseman.

Prinsip Satu : Maksimalkan Kesempatan Keberuntungan.
Orang beruntung menciptakan, melihat dan bertindak atas kesempatan kebetulan dalam hidup mereka.

        Disadari atau tidak, saya telah memaksimalkan kesempatan keberuntungan yang mampir dalam hidup saya. Dalam kejadian keberuntungan saya yang nomor satu (pertama), saya kebetulan mengikuti sebuah seminar di kampus saya. Saya tidak pernah merencanakan mengikuti seminar itu. Tetapi teman-teman memaksa karena “katanya” seminar itu gratis. Dan ternyata memang tiketnya gratis “asalkan” membeli satu nomor atau simcard dari perusahaan operator tersebut seharga lima ribu rupiah saja. Persyaratan lomba “scriptwriter” di jelaskan saat seminar. Ada penulis yang memberi materi seminar tentang kepenulisan yang hanya beberapa menit saja, lalu saya memanfaatkannya dengan mencatat semua kata-kata yang di ucapkan penulis itu.
Begitu juga dengan kejadian nomor dua, tiga dan empat. Saya sedang jalan-jalan di toko buku. Saya melihat novel-novel romance yang bagus dengan penerbit yang sama. Saya berkesimpulan bahwa penerbit tersebut adalah penerbit yang sukses di bidang romance. Saya pun melihat alamat website dari penerbit tersebut. Kebetulan saat saya membuka website penerbit itu, saya membaca ada lomba menulis surat untuk sahabat yang berhadiah satu paket novel romance. Dan saya langsung memaksimalkan kesempatan keberuntungan dengan mengikuti lomba tersebut.
Untuk kejadian nomor tiga, saya memaksimalkan kesempatan keberuntungan pada saat saya sedang membuka twitter penerbit yang sama. Ternyata di sana sedang berlangsung sebuah acara kuis. Saya langsung saja mengikuti kuis itu. Kejadian nomor empat juga sama. Saya memaksimalkan informasi lomba menulis cerpen dari facebook. Dan saya langsung saja mengikutinya.

Adapun subprinsip dari prinsip satu diatas yaitu :
a.  Orang yang beruntung membangun dan menjaga “jaringan keberuntungan” yang kuat.
b.  Orang yang beruntung menyikapi hidup lebih santai.
c.   Orang yang beruntung terbuka untuk pengalaman yang baru dalam hidup mereka.


          Prinsip Dua : Dengarkan Insting Keberuntungan Anda.
Orang yang beruntung membuat keputusan yang berhasil menggunakan intuisi dan insting mereka.

       Keputusan yang saya ambil ketika ingin mengikuti lomba-lomba tersebut adalah karena saya mengikuti intuisi dan insting saya. Saya merasa bahwa saya harus mengikuti lomba itu. Baik lomba menulis dari seminar yang bermodalkan catatan kecil cara “menulis” sehingga saya dapat membuat cerita yang cukup baik dimana posisi saya adalah penulis pemula. Lalu lomba menulis surat dari website penerbit novel yang alamat webnya saya dapat dari balik novel yang saya baca saat di toko buku.
Kemudian kuis twitter (penerbit yang sama) ketika saya sedang “iseng” membuka timeline penerbit itu dan saya langsung saja membuat pertanyaan yang menurut insting saya dapat memenangkannya karena berbeda dan belum ada yang bertanya, saat itu saya terpikirkan kata “carano”, kata yang pernah saya lihat dalam blog penulis novel itu ketika akan mempromosikan novel barunya tersebut. Dan terakhir lomba “kumpulan cerpen” yang ada di facebook dengan tema yang  sepertinya menurut insting saya, dapat saya kerjakan dengan baik. Saya merasa insting saya seperti mengatakan bahwa jika saya ikut lomba itu, maka saya bisa memenangkannya.

Subprinsip dari prinsip dua yaitu :
a.  Orang yang beruntung mendengarkan insting dan perasaan mereka.
b.  Orang yang beruntung mengambil langkah untuk meningkatkan intuisi mereka.

sumber gambar : google


Prinsip Tiga : Harapkan Kemujuran.
Pengharapan orang yang beruntung akan masa depan membantu mereka memenuhi impian dan ambisi mereka.

Dari kejadian-kejadian keberuntungan yang saya alami dari awal, sebenarnya saya sudah berharap adanya kemujuran atau keberuntungan di masa depan. Saya berharap lebih beruntung lagi dari sebelumnya. Dan memang setelah kejadian keberuntungan saya yang pertama, saya mendapat keberuntungan pada kejadian kedua, ketiga, keempat dan masih ada lagi yang tidak dapat saya sebutkan. Sampai saat ini pun saya masih mengharapkan akan ada keberuntungan lagi yang akan menghampiri hidup saya dan akan terus berharap. Tentunya dengan di iringi usaha dan kerja keras.
Jadi, intinya kita harus selalu berpikir positif. Bahwa kedepannya akan lebih baik lagi, akan ada keberuntungan-keberuntungan yang lebih lagi dari sebelumnya dan impian-impian kita dapat terwujud seiring kemujuran yang menyertainya.

Subprinsip dari prinsip tiga yaitu :
a.  Orang yang beruntung berharap kemujuran mereka berlanjut di masa depan.
b.  Orang yang beruntung berusaha meraih sasaran mereka, bahkan meski kemungkinan berhasil tampak kecil, dan mereka gigih menghadapi kegagalan.
c.   Orang yang beruntung berharap interaksi mereka dengan orang lain akan menguntungkan dan berhasil.


          Prinsip Empat : Ubah Kemalangan Anda Menjadi Kemujuran.
Orang yang beruntung mampu mengubah kemalangan mereka menjadi kemujuran.

       Di dalam kejadian-kejadian keberuntungan yang saya alami sebenarnya ada kejadian-kejadian yang menurut saya pribadi adalah sebuah “kemalangan”. Namun, saya tetap berpikir positif bahwa “kemalangan” yang terjadi dapat di ubah menjadi “kemujuran” di tempat lain. Salah satu kemalangan saya yaitu, sebenarnya layar/screen “notebook” saya rusak sehingga saya tidak dapat menggunakannya lagi padahal tugas-tugas kampus sudah menumpuk. Apalagi penyusunan skripsi juga sudah tiba. Saya sempat berdoa dan berharap bahwa Tuhan akan memberi saya “notebook” yang baru dan lebih baik lagi dari sebelumnya. Saya yakin akan harapan saya. Dan hasilnya, saya memenangkan “notebook” dari acara seminar itu.
Lalu kemalangan lainnya adalah saya tidak kunjung mendapat tempat riset dan juga kesulitan dalam menyusun/menulis untuk skripsi saya. Padahal waktu untuk menyelesaikan skripsi agar dapat lulus bersama teman-teman yang lainnya sudah cukup sempit. Itu membuat saya stres dan tidak bisa berpikir jernih. Tetapi dengan adanya lomba-lomba yang saya menangkan, saya menjadi semangat dan termotivasi bahwa semua akan baik-baik saja jika kita berpikir positif dan berusaha mewujudkannya. Dengan seringnya saya menulis cerpen/cerita membuat saya jadi lancar dalam menulis/menyusun skripsi saya. Ya, pokoknya semua kemalangan dapat di ubah menjadi kemujuran jika kita mau dan berusaha.

Berikut subprinsip dari prinsip empat :
a.  Orang yang beruntung melihat sisi positif dari kemalangan mereka.
b.  Orang yang beruntung yakin kemalangan apa pun dalam dalam hidup mereka akan, dalam jangka panjang, menjadi kebaikan.
c.   Orang yang beruntung tidak berlama-lama merenungi kemalangan mereka.
d.  Orang yang beruntung mengambil langkah membangun untuk mencegah lebih banyak kemalangan di masa depan.  


The Luck Magnet
Luck magnet atau dapat di artikan sebagai magnet/penarik keberuntungan. Jika kita ingin menjadi manusia yang dapat menarik keberuntungan sebanyak-banyaknya maka kita harus menanamkan dalam diri kita bahwa kita adalah orang yang beruntung dan mari menjemput keberuntungan dengan menerapkan prinsip-prinsip yang di ciptakan DR. Richard Wiseman seperti yang sudah saya jelaskan diatas.




Jadi, keberuntungan atau menjadi “penarik keberuntungan” dapat terjadi jika kita sebagai manusia memiliki keinginan yang besar untuk menjadikan diri kita orang yang beruntung. Dari kebiasan-kebiasan dan perilaku kita sehari-hari yang lebih positif akan dapat menjadikan kita sebagai The Luck Magnet. Dan jangan lupa beroda kepada Tuhan. Kita juga harus sadar, bahwa kita adalah sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang memerlukan jiwa yang tenang dan “tidak serakah” agar terus menjadi orang yang beruntung. Carilah keberuntungan Anda sendiri. Semoga Anda memperoleh keberuntungan Anda.


     Saya ucapkan terima kasih bagi Anda yang sudah menyempatkan waktunya untuk membaca postingan saya ini. Saya minta maaf apabila ada kata-kata yang salah dan kurang berkenan. Semoga bermanfaat sahabat.




Sumber referensi :
1.  Buku The Luck Factor, di terjemahkan dari :
Judul buku : The Luck Factor
Karya : DR. Richard Wiseman
Terbitan Miramax Books, 2003

Diterbitkan oleh :
Penerbit Literati
Imprint Penerbit Lentera Hati
Jakarta, 2011

2.  Artikel Majalah Motivasi “LuarBiasa”, Becoming The Luck Magnet, No.50 Tahun V, edisi Februari 2013
Judul artikel : Menjemput Keberuntungan
Penerbit : AW Publishing
Halaman : 010-011
Penulis : redaksi luar biasa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar